TARGETNEWS BATAM. SENIN 17 JULI 2017 Suansana sidang lanjutan yang di gelar di pengadilan negeri Kota Batam kali ini agak  rada rada mengundang emosi para pengunjung  sidang  maupun majelis  hakim, pasalnya ketika gelar  sidang  yang mengagendakan pendengaran saksi  dari pihak terdakwa yang bertujuan untuk  meringankan terdakwa eh... malah  membuat majelis  hakim emosi terhadap  saksi,  saksi yang dihadirkan  berjumlah 3 orang  itu semuanya  adalah warga  pendawa, mereka masing  masing berinisial   Sf,  Bg,  Id,  untuk  menggali keterangan saksi,dengan seksama majelis  hakim  mengajukan beberapa pertanyaan  seputar  peristiwa  yang  terjadi  pada  tanggal  19  Desember  2016 silam, majelis hakim  bermaksud  bisa  mendapat  keterangan yang  seadil adilnya  dari  para  saksi trdakwa yang  di  hadirkan,  bukan keterangan yang  dimaksud yang di peroleh  majelis  hakim, melainkan hanya menimbulkan emos para  majelis  hakim, salah satu  hakim  anggota mengajukan  pertanyaan terhadap  saksi Sf yang  kebetulan adalah  perangkat  RT di tempat kejadian peristiwa TKP, majelis  hakim  berrtanya para saksi,  apa  yang saudara lihat dan  sudara dengar dari  peritiwa yang  terjadi pada tanggal 19  desember  tahun 2016 yang lalu? dan dapat kah saudara tau siapa siapa saja  yang  melakukan penganiayaan terhadap  kedua korban tersebut?

saksi memberi  jawaban, karena  kejadian itu  malam  hari saya tidak  melihat dengan jelas wajah  wajah para pelaku pemukulan yang mengakibatkan matinya korba RIKARDO SITOMPUL  & REDEMTUS FIRDAUS, tetapi yang jelas para pelaku pemukulan tersebut bukanlah warga Pendawa melainkan warga perumahan pemda yang berdektan dengan perum pendawa, hakim bertanya kembali,  bagai mana saudara tau  bahwa yang mmelakukan pemukulan itu adalah warga perum pemda? jawab saksi, karena korban lari  ke daerah perum pemda dan warga berteriak maling maling warga tersebet berdatangan untu melakukan pemukulan terhadap  korban, disaat  itulah  salah satu  dari majelis hakim  emosi mendengar  jawaban  dari  saksi Sf, hakim: saudara  tadi  mengatakan  tidak  dapat melihat dengan jelas pelaku  pemukulan terhadap  korban karena kejadian di malam hari, tapi  saudara dapat  memastikan pelaku pemukulan itu adalah  warga lain alis warga pemda, perlu saudara ingat bahwa saudara sudah di sumpah yang mengikat kesaksian saudara tentang kebenarannya, bahwa kesaksian saudara itu, jika ntidak  benar saudara akan ber urusan dengan tuhan di kemudian hari, jadi  jangan berbelit  belit  dalam  bemberikan kesaksian, ingat kami disini  adalah  hakim, yang berhak  mencabut  nyawa  manusia  ada dua, yakni  Tuhan  dan hakim  dan  itu adalah  sah,  dengan apa keabsahannya?  karena hakim jika mengetuk palu alias  ponis, itu sudah di atur  oleh Undang Undang Republik Indonesia,  jadi  hakim disini menggali kesasian saudara untuk membandingkan dengan kesaksia para saksi yang sudah  sudah,  supaya dapat  meringankan terdakwa ber enam ini saudara harus memberikan keterangan yang benar, ketika  hakim ketua memberikan  kesempatan kepada hakim anggota yang lain,  sama  halnya, bukan keterangan  yang sebenarnya yang di peroleh majelis hakim,  melainkan emosi juga karena skasi memberi ketrangan berbelit belit tidak sama keterangan  awal dengan keterangan ahir, karena hakim mepertanyakan  berulang ulang untuk  menganalisa jawaban dari saksi apakah  sama jawaban  awal  dengan jawaban ahir dengan pertanyaan yang sama, namun ketrangan dari saksi Id, sama meberikan keterangan yang berbeli belit, dan sehingga  hakim  terlihat  bingung  dengan keterangan para  saksi tersebut,  para  intinya ketiga  saksi  yang di  hadirkan itu sama  dengan sebuah pantun yang berbunyi: maksud  hati  memeluk  gunung apalah daya  tangan tak  sampai,  maksud  saksi meringankan pelaku  tak  akan dapat karena kesaksian tak bernilai,  seolah  olah begitulah jika dipetik  hasil dari gelar  sidang senin  17  Juli 2017,  sidang  akan di gelar  kembali   24  jULI 2017 dengan  agenda  mendengarkan keterangan dari masing  masing  pelaku,  karena  hakim  tidak  bersedia lagi mendengarkan keterangan saksi terdakwa yang meringankan. **TaWaR.

 

Versi cetak