Targetnews.co.id// Jakarta, – Suasana berbeda menyelimuti halaman Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia pada Rabu siang (1/4/2026). Di tengah hiruk pikuk ibu kota, ratusan massa yang tergabung dalam Team Gaskan bersama mahasiswa dan elemen masyarakat turun langsung menyuarakan tuntutan keadilan dalam sebuah aksi damai yang sarat makna.
Sejak pukul 11.30 WIB, sekitar 150 peserta aksi memadati area depan Mabes Polri. Dengan membawa spanduk dan menyampaikan orasi secara bergantian, mereka menyoroti dugaan kriminalisasi terhadap seorang perempuan bernama Vanessa. Meski berlangsung tertib, gelombang aspirasi yang disampaikan terasa kuat dan penuh tekanan moral.
Dalam orasinya, massa mengangkat sejumlah isu sensitif, mulai dari dugaan rekayasa perkara hingga dampak sosial yang ditimbulkan, termasuk kondisi anak yang disebut terdampak akibat kasus tersebut. Mereka menilai bahwa penegakan hukum harus berdiri di atas prinsip kejujuran dan transparansi, bukan sekadar formalitas prosedural.
Sorotan utama aksi tertuju pada desakan agar aparat penegak hukum membuka proses penanganan perkara secara terang benderang. Bagi para demonstran, keadilan tidak boleh menjadi konsep abstrak, melainkan harus hadir nyata melalui proses hukum yang objektif dan akuntabel. Di tengah aksi, tim kuasa hukum Vanessa turut menyampaikan sikap resmi mereka. Mereka mengajukan tiga tuntutan utama: penangguhan penahanan, pelaksanaan gelar perkara secara terbuka, serta pembuktian fakta hukum secara transparan.
Salah satu kuasa hukum, Tb Rahmad Sukendar, menegaskan bahwa pihaknya tidak menolak proses hukum, melainkan menginginkan proses yang bersih dan berimbang. Menurutnya, kasus ini bukan hanya menyangkut satu individu, tetapi juga menyangkut kepercayaan publik terhadap sistem hukum itu sendiri.
Respons dari pihak kepolisian pun hadir secara langsung. Perwakilan dari Bareskrim Polri menyatakan keterbukaan terhadap aspirasi yang disampaikan. Mereka menegaskan bahwa setiap masukan dari masyarakat akan menjadi bahan evaluasi dalam penanganan perkara, khususnya yang berkaitan dengan perempuan dan anak. Momen paling menggetarkan terjadi saat ibu kandung Vanessa menyampaikan harapannya di hadapan media. Dengan suara bergetar, ia memohon perhatian agar anaknya mendapatkan keadilan.
Ia juga mengungkapkan kondisi cucunya yang disebut mengalami dampak serius, baik secara emosional maupun pendidikan.
Isu kemanusiaan yang mencuat dalam aksi ini memperluas dimensi persoalan. Tidak lagi sekadar soal hukum, tetapi juga menyentuh sisi sosial dan kemanusiaan yang tak bisa diabaikan. Meski membawa tuntutan besar, aksi berlangsung damai tanpa insiden. Aparat keamanan mengawal jalannya kegiatan dengan pendekatan humanis, memastikan aspirasi tersampaikan tanpa mengganggu ketertiban.
Menutup aksi, Team Gaskan menegaskan komitmennya untuk terus mengawal kasus ini melalui jalur hukum dan advokasi publik. Mereka berharap, suara yang disampaikan tidak berhenti sebagai simbol, melainkan menjadi pemicu perubahan nyata. Di tengah padatnya dinamika ibu kota, satu pesan bergema jelas—keadilan bukan milik segelintir orang, melainkan hak setiap warga negara yang harus diperjuangkan dan dijaga bersama.













